From Qur'an || From Hadith

From Qur'an Surah Al-An'am (The Cattle) 6:164

Say: "Shall I seek a lord other than Allah, while He is the Lord of all things? No person earns any (sin) except against himself (only), and no bearer of burdens shall bear the burden of another. Then unto your Lord is your return, so He will tell you that wherein you have been differing."

None can bare the burden of another... meaning each of us are responsible for our own actions in this life. we better be sure that we are following the correct understanding of Islam, within the guidelines of the Qur'an and the Sunnah... cause on the day of judgment we will not be able to point fingers at any one else.. not even our sheikhs, imams or maulanas. May Allah (swt) give us the correct understanding of Islam and help us to abide by all aspects of it.

Wednesday, 11 June 2008

Ambillah Keputusan


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Ali-‘Imran, ayat 159:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Sesunguhnya kebanyakan dari kita mengalami keraguan manakala harus mengambil suatu keputusan penting sehingga menjadi gelisah, bingung, kacau dan ragu, sehingga akhirnya mengalami sakit dan pening kepala yang berpanjangan. Adalah kewajipan seorang hamba untuk bermusyawarah atau beristikharah kepada Allah. Kemudian merunung sebentar, setelah itu. Jika kemudian dia merasakan ada sesuatu yang menurutnya paling tepat, majulah dan jangan ragu-ragu. Sekarang, bulatkan tekad, tawakkal, dan mantapkan hati, agar hidup ragu-ragu dan bimbang cepat berakhir.

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri meminta pandangan kepada kaum muslimin sehubungan dengan rencana melakukan perang Uhud, sedang beliau berada di atas mimbarnya. Para sahabat mencadangkan agar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam turun langsung ke medan perang. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam segera memakai baju perang dan mengambil pedangnya. Ketika mereka berkata: “Barangkali kami telah memaksa engkau, wahai Rasulullah? Bagaimana kalau engkau tetap tinggal di Madinah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

Pantang bagi seorng Nabi bila mengenakan baju perangnya untuk melepasnya kembali sebelum Allah memutuskan antara dia dan musuhnya.

Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertekad untuk tetap berangkat ke medan Uhud. Sebenarnya, dalam menghadapi sebuah permasalahan tidak perlu sikap ragu-ragu. Masalah apa pun harus dihadapi dengan keyakinan yang kuat dan tekad yang bulat. Sebab keberanian dan kepemimpinan itu tampak dalam pengambilan keputusan.

Rasulullah Shallallahu wasallam juga bermusyawarah dengan para sahabatnya pada saat perang Badar, kerana mengamalkan firmanNya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

(Ali-‘Imran, 3:159)

Para sahabat pun bermusyawarah dengan beliau. Setelah itu barulah beliau bertekad dan maju tanpa menoleh kea rah mana pun.

Sesungguhnya sikap ragu-ragu merupakan ketidakberesan dalam melihat sebuah permasalahan, memadamkan semangat, melemahkan rencana, menyia-yiakan susah payah dan melahirkan kebimbangan dalam melangkah. Ragu-ragu adalah penyakit yang tidak ada ubatnya kecuali dengan ketekadan, perbuatan dan keteguhan hati. Banyak yang menjelaskan bahawa keputusan-keputusan kecil dan permasalahan-permasalahan remeh-temeh harus diselesaiakan selama bertahun-tahun. Saya dapat memastikan bahawa sikap itu tiada lain kerana keraguan dan kebimbangan telah menguasai mereka dan menguasai teman-teman yang ada di sekitar mereka.

Sesungguhnya mereka telah membiarkan kebimbangan merasuki jiwa mereka sehingga mempengaruhinya dan membiarkan kekacauan menghinggapi hati mereka sehingga menyibukkannya.



Sesungguhnya sudah menjadi keharusan bagi anda setelah anda mempelajari kenyataan adalah memikirkan permasalahan itu, bertukar pendapat dengan orang yang bijaksana dan berpengalaman, beristikharah kepada Tuhan alam semesta, berjalan kehadapan menghadapi masalah, dan menyelesaiakan yang sudah ada di depan mata terlebih dahulu.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu mengambil sikap yang berbeda setelah bermusyawarah dengan kaum muslim tentang memerangi orang-orang murtad. Kaum muslim menyarankan kepada Abu Bakar agar tidak memerangi mereka, tetapi Abu Bakar lebih memilih perang dengan pertimbangan bahawa dengan perang akan tampak kebesaran Islam, menghapus benih-benih fitnah yang akan muncul berikutnya, dan menekankan kelompok-kelompok yang akan mencemarkan kesucian agama. Cahaya Allah yang diterimanya pada waktu tidur menguatkan pendapatnya bahawa perang lebih baik. Maka Abu Bakar pun membulatkan tekadnya dan bersumpah: “Dan demi Dzat Yang jiwaku ada di tanganNya saya akan perangi orang yang membedakan antara solat dan zakat. Demi Allah, seandainya mereka tidak mahu menyerahkan zakatnya kepadaku seekor unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, nescaya akan ku perangi mereka kerananya.”

Setelah peristiwa itu selesai Umar Radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Ketika saya menyedari bahawa Allah telah membukakan hati Abu Bakar, saya tahu apa yang dia lakukan adalah benar.” Buktinya, Abu Bakar jalan terus dengan pendapatnya, dan berhasil. Pendapatnya memang sangat bagus dan benar, tanpa ada penyimpangan apa pun.

Kalau demikian, sampai bilakah kita terumbang-ambing oleh kebimbangan? Sampai bila kita beranjak dari tempat kita? Dan sampai bila kita terus-menerus ragu dalam mengambil keputusan?

Jika anda mempunyai pendapat

putuskanlah dengan tegas

kerana sesungguhnya keraguan anda

akan melemahkan pendapat anda sendiri.

Sesungguhnya di antara karaktor orang-orang munafiq adalah suka menggagalkan rencana sendiri kerana terlalu banyak mengulang pertanyaan dan banyak mempertimbangkan pendapat yang telah ditetapkan.

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.

(At-Taubah, 9:47)

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar."

(Ali-‘Imran, 3:168)

Sesungguhnya orang-orang munafiq itu selalu mengatakan “seandainya”, “… akan jadi begini jika begini”, dan “boleh jadi”. Kesannya, kehidupan mereka pun berdiri di atas pengandaian, di atas langkah yang maju-mundur, dan ketidakjelasan.

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

(An-Nisa’, 4:143)

Sesekali mereka bersama kita dan pada kesempatan yang lain bersama musuh kita. Sesekali berada di pihak ini dan lain kali berada di pihak itu.

Disebutkan dalam hadith mengenai karaktor mereka:

Seperti seekor kambing yang kebingungan di antara dua kelompok ternak kambing.

Orang-orang munafiq pada saat kritis mengatakan sebagaimana yang dinyatakan oleh firmanNya:

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)." Mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

(Ali-‘Imran, 3:167)

Dengan mengatakan seperti itu sebenarnya mereka tidak jujur kepada Allah dan kepada diri mereka sendiri. Pada saat yang kritis bersembunyi menghindar dari tugas dan saat makmur mereka datang bergabung. Seseorang dari mereka mengatakan sebagaimana yang dinyatakan oleh firmanNya:

Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah." Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.

(At-Taubah, 9:49)

Sesungguhnya dia tidak mengambil keputusan, melainkan hanya kegagalan dan kesengsaraan. Dalam peristiwa perang Ahzab mereka mengatakan sebagaimana yang disebutkan oleh firmanNya:

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.

(Al-Ahzab, 33:13)

Ayat di atas adalah pernyataan yang intinya adalah dalih agar terlepas dari kewajipan, dan menghindarkan dari kebenaran yang nyata.

2 comments:

ain said...

Jika anda mempunyai pendapat

putuskanlah dengan tegas

kerana sesungguhnya keraguan anda

akan melemahkan pendapat anda sendiri.

Aku suka ayat ni...

wan said...

lagi satu...

buanglah keraguan...
kerana keraguan itu menghalang untuk seseorang berusaha mencapai kejayaan...

=))

Related Posts with Thumbnails