From Qur'an || From Hadith

From Qur'an Surah Al-An'am (The Cattle) 6:164

Say: "Shall I seek a lord other than Allah, while He is the Lord of all things? No person earns any (sin) except against himself (only), and no bearer of burdens shall bear the burden of another. Then unto your Lord is your return, so He will tell you that wherein you have been differing."

None can bare the burden of another... meaning each of us are responsible for our own actions in this life. we better be sure that we are following the correct understanding of Islam, within the guidelines of the Qur'an and the Sunnah... cause on the day of judgment we will not be able to point fingers at any one else.. not even our sheikhs, imams or maulanas. May Allah (swt) give us the correct understanding of Islam and help us to abide by all aspects of it.

Tuesday, 12 August 2008

‘illat atau tidak

“Kajian saintifik tentang ibadat kurang diperbincangkan kepada umum” itu adalah sedikit teks yang terdapat dalam suatu article bertajuk “….”. Rasanya kalau tak diperbincangkan kepada umum tak menjadi masalah bukan?? Ada perkara yang lebih dan wajib dibincangkan dan perlu diketengahkan oleh pemimpin khususnya. Aku mendapat bahan tersebut dari blog seseorang tak dikenali yang pernah memasuki dan memberi komentar terhadap pos-pos aku. Di dalam pos beliau, beliau membuat kesimpulan;


So…conclusion nye…
Solat ialah terapi yang mujarab tok dri manusia…
T ana letak artikel tu kt blog ku ini…
Bace tau
Bace..bace…bace….


Dalam pos aku ini tidak berniat mengatakan dia(empunya blog artikel) itu salah. Aku mahu hujahkannya. Kerana ramai yang mengambil pendekatan solat itu akan menyihatkan tubuh badan dan mencerdaskan akal. Dan ramai yang “terlupa” bahawa perintah solat adalah mengabdikan diri kepada Allah SWT

Bacalah dengan baik-baik. Semoga fikhrah kita tidak dicernakan oleh pemikiran secular.

Pada dasarnya ada atau tidaknya ‘illat (sebab hukum) ditentukan oleh nash itu sendiri, apakah ia memang mengandung ‘illat atau tidak. Sebab, ‘illat itu terkandung di dalam nash, bukan terkandung di luar nash. Tidak ada ‘illat kecuali ada nash yang menyanggahnya. Jika suatu nash memang mengandung ‘illat, maka kita harus menyatakan bahwa di dalam masalah itu ada ‘illatnya. Contohnya adalah nash yang melarang jual beli kurma yang masih basah (ruthab) dengan kurma kering (tamr). Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Rasulullah Saw pernah ditanya tentang jual beli tamr (kurma kering) dengan ruthab (kurma basah). Rasulullah balik bertanya, “Apakah tamr akan susut jika ia kering?” Para shahabat menjawab, “Benar, Ya Rasulullah.” Rasulullah Saw bersabda, “Jangan (lakukan jual beli itu)!” Di dalam nash ini, terdapat ‘illat atas pelarangan jual beli tamr dengan ruthab, yakni penyusutan. Dengan kata lain, sebab diharamkannya jual beli tamr dengan ruthab adalah adanya penyusutan. Contoh lain adalah, larangan jual beli ketika solat Jumaat. Di dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs. al-Jumu’ah [62]: 9).

Ayat ini menerangkan tentang hukum solat Jumaat, bukan hukum jual beli. Selanjutnya, Allah SWT melarang aktiviti apapun, ketika telah dikumandangkan untuk solat Jumaat, termasuk di dalamnya jual beli. Adapun ‘illat larangan melakukan jual beli tatkala dikumandangkan solat Jumaat adalah “al-ilhâ’ ‘an al-sholat” (menelantarkan solat). Untuk itu, meskipun ayat tersebut berbicara tentang perintah meninggalkan jual beli, namun aktiviti yang dilarang Allah SWT tatkala solat Jumaat telah dikumandangkan bukan hanya jual beli saja (berdasarkan ketetapan nash), tetapi semua hal yang boleh mengantarkan para penelantaran dan pengabaian solat Jumaat. Sebab, ‘illat larangan berjual beli di saat solat Jumaat adalah pengabaian dan penelantaran solat Jumaat. Walhal, membaca buku yang boleh mengakibat pada penelantaran solat Jumaat termasuk aktiviti yang dilarang. Demikian juga aktiviti-aktiviti lain yang boleh menelantarkan solat Jumaat.

Dengan demikian, apakah suatu masalah mengandung ‘illat atau tidak, ditentukan oleh nash itu sendiri, bukan ditentukan berdasarkan masalahnya (ibadah, mu’amalah dan lain sebagainya). Jika nash tersebut mengandung ‘illat, maka berlakulah hukum ‘illat. Jika nash tersebut tidak mengandung ‘illat maka tidak berlaku pula hukum ‘illat. Nash-nash di sini berlaku umum, baik nash yang berbicara tentang ibadah, akhlaq, pakaian, ‘aqidah dan lain sebagainya. Jika mengandung ‘illat —meskipun dalam masalah ‘aqidah— maka kita harus menyatakan bahwa pada masalah itu mengandung ‘illat.


Adapun pernyataan yang menyatakan bahwa di dalam ibadah tidak ada ‘illatnya, maka pernyataan ini ditetapkan setelah dilakukan kajian pada nash-nash yang berkaitan dengan masalah ibadah. Setelah dilakukan kajian terhadap nash-nash yang berhubungan dengan masalah ibadah, para ‘ulama tidak menemukan satupun nash yang di dalamnya terkandung ‘illatnya. Oleh karena itu, ‘ulama ushul menyatakan, bahwa di dalam masalah ibadah tidak ada ‘illatnya. Sebab, nash-nash yang berbicara tentang ibadah sama sekali tidak mengandung ‘illat, baik ‘illat shurahah ( ‘illat yang jelas), ‘illat yang ditunjukkan oleh huruf-huruf ‘illat (bi, li, kay, dan lain-lain), ‘illat dalalah (‘illat penunjukkan), ‘illat bi al-istinbâth, dan lain sebagainya).


Selain itu, nash-nash yang berhubungan dengan masalah ibadah biasanya jelas, tegas dan rinci (menggunakan isim jamid) yang tidak membuka ruang bagi adanya ‘illat. Oleh karena itu, dalam masalah ibadah tidak ada ‘illatnya. Sebab, nash-nash yang berbicara tentang ibadah tidak mengandung ‘illat.



Pembahasan mengenai taklif tidak boleh dikaitkan dengan perolehan yang akan didapatkan oleh manusia tatkala menjalankan taklif itu, kecuali memang ada nash-nash yang menunjukkan. Misalnya, solat itu akan berefek menyihatkan, dan meningkatkan stamina tubuh. Puasa itu menyihatkan dan baik untuk organ dalam manusia, dan lain sebagainya. Sesungguhnya, seluruh taklif yang dijalankan oleh seorang muslim harus dimotivasi oleh satu niat saja, yakni menjalankan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Dengan kata lain, seorang mukmin tatkala menjalankan ibadah kepada Allah, baik sholat, puasa, zakat dan lain sebagainya, tak lain tak bukan hanyalah refleksi dari ketertundukan dirinya dengan perintah Allah SWT. Ia tidak pernah meminta apapun dari Allah kecuali pahala dan keredhaannya.


Adapun perolehan yang bersifat fizik mahupun materialistik, yang akan didapatkan oleh seorang mukmin tatkala beribadah kepada Allah, itu adalah masalah lain. Sebab, tujuan ibadah memang bukan untuk ini, akan tetapi untuk mencapai redha Allah SWT tanpa memang perolehan atau akibat yang akan diterima secara fizik.

Pengkaitan antara ibadah dengan perolehan-perolehan secara fizik, dipicu oleh keinginan sebagian kaum muslim yang ingin mendakwahkan Islam lebih “ilmiah dan lebih diterima oleh masyarakat moden.” Agar orang tertarik kepada solat, mereka menyatakan, bahwa jika seseorang rajin solat, maka stamina tubuhnya akan kuat, dan kejiwaannya stabil. Apabila seseorang mengerjakan puasa, maka organ dalamnya akan kuat dan sehat. Selanjutnya mereka menyimpulkan bahwa solat, puasa, dan perintah-perintah Allah SWT berimplikasi pada kesihatan tubuh dan kematangan jiwa.

Pada dasarnya, cara berfikir seperti ini tidak tepat. Yang tepat adalah, seorang da’i harus menjelaskan bahwa sholat adalah perintah Allah yang mesti dilaksanakan oleh seorang muslim, tanpa memperhatikan lagi apakah solat akan memberikan manfaat secara fizik atau tidak. Bahkan, jika seseorang beribadah dengan tujuan untuk mendapatkan manfaat secara fizik, sungguh perbuatannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Dalam hal ini, Allah SWT telah berfirman:

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Qs. al-Hajj [22]: 11).


Imam Ibnu Katsir, dalam Tafsir Ibnu Katsir menyatakan, “Menurut Mujahid, Qatadah serta ‘ulama-‘ulama tafsir lainnya, bahwa yang dimaksud ‘ala harf, adalah ‘ala syakk (di atas keraguan).” Ayat ini menyindir orang-orang yang menyembah kepada Allah di atas keraguan, bukan di atas keyakinan hatinya. Sedangkan, Imam al-Qurthubiy, di dalam Tafsir al-Qurthubiy, mengutip penafsiran Ibnu ‘Abbas terhadap menyatakan, ‘Ayat ini berhubungan kisah, “Sejumlah orang Arab yang mendatangi Rasulullah SAW di Madinah, kemudian mereka masuk Islam. Untuk menilai apakah Islam agama baik atau buruk, mereka mengukurnya dengan jika isteri mereka melahirkan anak laki-laki, dan ternak mereka berkembang biak, mereka menyatakan bahwa Islam adalah agama yang baik. Namun sebaliknya, jika mereka mendapati bahwa isterinya melahirkan anak perempuan, dan ternaknya tidak berkembang biak, mereka menyatakan bahwa Islam adalah agama sial (buruk). Kemudian mereka murtad dari Islam kembali.”


Inilah gambaran bagi orang-orang yang menyembah kepada Allah kerana manfaat-manfaat atau kepentingan-kepentingan duniawi. Jika mereka mendapatkan keuntungan duniawi, atau mendapatkan kebahagian-kebahagiaan bendawi, mereka akan tenteram dan giat beribadah kepada Allah. Sebaliknya, tatkala mereka beribadah kepada Allah, kemudian mendapatkan berbagai macam fitnah, celaan, dan kerugian-kerugian harta benda, mereka segera berpaling dari Islam. Dengan mudah mereka kembali kepada kekafiran. Menurut Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Shafwatut Tafâsir, “Orang-orang semacam ini seperti pasukan yang tengah berada dalam kondisi kritis. Pasukan yang berada dalam kondisi kritis cenderung akan berbuat apapun untuk menyelamatkan dirinya. Seandainya mereka diperintahkan untuk murtad —asalkan itu boleh menyelamatkan dirinya— tentu mereka akan bergegas untuk kembali murtad.” Wallahu a’lam bi al-shawab.


Seperti sedia maklum… Ibadah meliputi segala perintah Allah. Salah satu adalah solat dan Rasul beribadah pada seluruh perkara kenapa kita tidak??

Solat adalah Hablu Minallah (hubungan dengan Allah). Jadi mengapa nak perbesarkan isu itu semata-semata, sedangkan Hablu Minannas seperti pemerintahan, muamalat, jenayat, dan sebagainya tak berjalan. Itu yang terjadi sekarang, masalah Palestine pun diselesaikan dengan solat Hajat. Makin kuatkan idea secular. Perintah solat adalah dari dalil Pat’ie. Tak ada ilat (sebab hukum) dalam perintah solat. Akidah umat akan jadi lemah.


So apabila nak melakukan sesuatu diperintahkan. Tak perlu dilihat pada kebaikannya didalam kajian saintifik mahupun pandangan manusia. Takut dan khuatir diri/orang-orang yang menyembah kepada Allah di atas keraguan, bukan di atas keyakinan hatinya.

Wallahulam.
p/s:
- I am under construction
- Minta syabab2, sahabat2, dan kaum muslimin sekalian. Perbetulkan jika terdapat kilaf(kesalahan) dari segi hujah, pendapat, mahupun tafsiran nas-nas al-quran dan al-hadith..

9 comments:

Anonymous said...

salam elaik

erm..bgos artikel kamu
mayb ada kekurangan time ana post bout keistimewaan solat dri sudut saintifik..
depends on niat msing2 ...
tq 4 the reminder..
but...
leh di upgrade lgi artikel ana tuh..
tujuan utama solat itu mengabdikan dri kpd Allah di samping solat itu mpunyai benefit yg sgt best..
trimas...



wassalam

wan said...

Salam ano...
sama2...
Juz mahu menerangkan apa yang patut dijelaskan.
Takut nanti bila xde manfaat(kepentingan diri). Orang dah tak wat perkara-perkara yang diperintahkanNya.

Anonymous said...

sesuatu amalan itu dimulakan dgn niat yg baiks. NAWAITU...solat juga dimulakan dgn niat....mdah2an apa yg dilakukan mdpt redha NYA...

wan said...

Salam ano [14 August 2008 17:18]...

Man anta/anti??

wan said...

Urusan ibadah adalah bukti ketaatan kepada Allah, kita beribadah bukan atas sebab saintifik atau sebagainya. Tapi atas sebab ketundukan kita kepada Allah, tak perlukan sebab saintifik sebagai dorongan untuk beribadah.

Anonymous said...

menggunakan pelbagai cara utk ingtkan manusia yg lupa tetapi berdasarkan pada niat yg satu iaitu beriman kpd Allah..

orang bkn Islam yamg berminat kpd Islam tertanya2 mengapa muslim solat..
yg pling utama spt yg kamu kata dlm komen lepas, abdikan diri kpd Allah..sometimes, mnsia sedar akn hal itu, tetapi mengapa mereka tetap x lakukan apa yang ALLAH suruh..n wajib?

kenapa ye?

kurang pendedahan tentang solat..
tak mengkaji apa itu solat, keistimewaan..dll..
pada opinion sy sdri, keistimewaan solat dari sudut saintifik itu slh 1 cara utk tarik minat mereka..tapi kita perlu tegaskan bahawa solat itu berdasarkn niat kpd Allah..niat itu pnting..

saya x expert bab agama..saya praktik apa sy bace, dengr & lihat..insyaAllah..siapa yg jaga solat insyaAllah berjaya dunia akhirat termasuk dlm mjadi khalifah..

wan said...

Salam ano [15 August 2008 18:06]

Peraturan-peraturan Islam merupakan hukum-hukum syara' yang berkaitan dengan ibadah, akhlaq, makanan, pakaian, mu'amalah dan 'uqubat. Dalam hukum-hukum syara' yang berkaitan dengan ibadat, akhlaq, makanan dan pakaian tidak boleh dicari-cari 'illatnya. Sabda Rasulullah SAW:

"Khamr itu diharamkan kerana zatnya"

Sedangkan hukum-hukum syara' yang berkaitan dengan mu'amalat dan 'uqubat dapat memiliki 'illatnya, kerana hukum syara' dalam perkara tersebut didasarkan pada suatu 'illat yang merupakan sebab adanya hukum. Sudah menjadi kebiasaan umum, banyak orang mencari 'illat terhadap seluruh hukum-hukum berdasarkan manfaat kerana terpengaruh oleh kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah) Barat dan kebudayaannya, yang menjadikan manfaat semata-mata sebagai dasar terhadap seluruh perbuatan. Hal ini bertentangan dengan kepemimpinan berpikir Islam yang menjadikan ruh sebagai asas seluruh perbuatan dan menjadikan penyatuan materi(perbuatan) dengan ruh merupakan pengendali bagi seluruh perbuatan.

Hukum-hukum syara' yang berkaitan dengan ibadah, akhlaq, makanan dan pakaian tidak boleh dikaitkan dengan 'illat secara mutlak. Sebab hukum-hukum semacam ini tidak mengandung 'illat. Hukum seperti ini diambil sesuai dengan apa yang terdapat dalam nash saja, tanpa dikaitkan sama sekali dengan 'illat, seperti halnya solat, shaum, haji, zakat, tata cara(rukun) solat, bilangan raka'at solat, manasik haji, nishab-nishab zakat dan yang sejenisnya, diambil secara tauqifi sebagaimana adanya, dan diterima dengan penuh pasrah tanpa melihat segi 'illatnya. Bahkan, tidak mencari-cari 'illatnya. Begitu pula pengharaman memakan bangkai, daging babi, dan yang sejenisnya, sekali-kali tidak dicari-cari 'illatnya. Bahkan termasuk suatu kesalahan yang cukup berbahaya, apabila mencari 'illat bagi hukum-hukum tadi. Sebab, apabila ada usaha untuk mencari 'illat bagi suatu hukum terhadap perkara-perkara tersebut tentu memiliki kesinambungan yaitu apabila hilang 'illatnya, hukumnya pun akan hilang, sebab "'illat itu senantiasa mengikuti ma'lulnya, ada atau tidaknya."


Seandainya 'illat wudhuk itu kebersihan, 'illat solat adalah senaman, 'illat shaum itu kesihatan dan seterusnya, maka tentu hal ini akan mengakibatkan bahawa disaat tidak didapati 'illatnya maka tidak akan didapati hukumnya. Tetapi masalahnya tentu tidaklah demikian. Kerana itu, mencari-cari 'illat dalam masalah ini akan membahayakan kewujudan hukum dan pelaksanaannya. Maka hukum-hukum ibadat wajib diterima sebagaimana adanya tanpa mencari-cari 'illatnya. Adapun mengenai hikmah (tujuan dan akibat perbuatan), maka sesungguhnya Allah sendirilah yang mengetahuinya, dan akal kita tidak mungkin menjangkau hakikat zat Allah dan tidak akan mampu menjangkau hikmahnya. Apa yang disebutkan dalam nash-nash Al Qur'an dan As Sunnah mangenai hikmah untuk beberapa hukum seperti firman Allah SWT:


"Sesungguhnya solat itu mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar..." (QS Al Ankabut 45)


"Supaya orang-orang yang melakukan ibadah haji memperoleh berbagai manfaat dari mereka..." (QS Al Hajj 28)

"(Dan) Apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keredhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan pahalanya" (QS Ar Ruum 39)

Begitu pula ayat-ayat lain yang sejenisnya, tentang hikmah yang disebut dalam nash-nash Syara', maka pengertian hikmahnya terbatas (apa yang tercantum) pada nash itu saja dan diambil hanya dari nash tersebut, tidak dianalogikan kepada yang lain. Apa yang tidak disebut hikmahnya oleh nash, kita tidak boleh mencari-cari hikmahnya sebagaimana kita tidak boleh mencari-cari 'illatnya.

Anonymous said...

salam..
alhamdulillah atas info yang diberikan. semoga umat x lagi menagih2 lagi manfaat dr saintis2 dalam melakukan ibadah. apa yang ana nampak kita tak perlu mengambil hati kaum kufar utk memeluk islam semata-mata ada manfaat apabila memeluk islam. mereka boleh saja meniru tatacara solat kita jika mereka mahu, walaupun tanpa membaca satu ayat pun.. Jadi apa yang penting utk mengajak mereka kepada islam adalah membuktikan kepada mereka bahawa akidah islam satu-satunya yang haq, selain dr islam adalah batil, bukan dgn menyedapkan hati mereka bahawa islam agama yang menyihatkan.. ana juga percaya ini adalah salah satu usaha pihak kuffar utk melemahkan akidah umat islam dgn menggunakan senjata mereka yang dipanggil "psuedo science"
Wallahualabissawab.

faisol said...

terima kasih sharing info & ilmunya...

saya membuat tulisan tentang "Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?"
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/

Related Posts with Thumbnails